GOLDEN ANNIVERSARY SMA 271
Di sini
penulis akan membuktikan bahwa suatu hal yang besar tidak lahir dari hal yang
besar pula, namun justru lahir dari hal kecil. Dari pengalaman penulis saat
belajar di SMA tercinta (baca : SMAN 1 Pacitan). Pastinya di organisasi penulis
dapatkan pesan-pesan moral itu. Dan sangat disayangkan apabila pembaca tidak
membaca tulisan ini sampai kelar.
Saat itu ada
sebuah gagasan yang amat besar (baca : HUT Emas ke-50) yang dilimpahkam kepada
kami (baca : Pengurus OSIS). Disini suatu proses mulai kami lakukan. Tidak
tanggung-tanggung kami memiliki gagasan yang sangat besar dengan visi yang
tinggi pula. Namun ternyata gagasan tersebut tidak terdukung oleh suatu hal
yang besar pula (baca : anggaran). Tiap hari kita selalu memperbaiki konsep
supaya mendapat dukungan yang besar. Namun semua serasa selalu digagalkan, tiap
konsep yang kami ajukan tidak mendapat dukungan. Tidak tau apa sebenarnya
sebabnya, padahal kami akan berusaha untuk memenuhi anggaran kegiatan itu. Karena
ada sejarah, pada saat itu ada sebuah kegiatan dengan dana besar yang tidak
mampu ditalangi anggarannya setelah kegiatan itu selesai. Oke, sejarah bagi
kami adalah pelajaran bukan halangan. Permasalahan yang paling miris lagi,
ternyata gagasan tentang kegiatan ini (baca : HUT emas ke-50) tidak mendapat
tanggapan dan dukungan dari sebagian pihak intern (baca : sebagian guru).
Pada suatu
saat ada agenda bertemu pimpinan daerah (selaku alumni) untuk melakukan lobi
pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena dalam keadaan KBM (baca : Kegiatan
Belajar Mengajar) penulis harus ijin terlebih dulu kepada guru pengajar. Saat itu
penulis ditanya, sebenarnya ada kegiatan apa kok sampai bertemu pimpinan daerah
(baca : Bupati) ? Busett, ternyata guru saja tidak tahu tentang kegiatan
sekolah itu. Setelah ijin di setujui, penulis curhat kepada beberapa guru yang
ngerti tentang kegiatan itu. Mengapa sebagian guru (selaku salah satu pihak
dalam sekolah) tidak mengetahui acara yang merupakan acara sekolah itu? Berbagai
penjelasan diuraikan, yang pada intinya permasalahannya pada “Koordinasi”. Selain
mendapat penjelasan tersebut diberikan penjelasan pula tentang hari lahirnya
sekolah (baca : secara de facto & de jure). Mungkin karena segala persiapan
yang amat minim untuk menggelar event golden anniversary, akhirnya diputuskan
penghitungan hari ulang tahun memakai penentuan secara de jure (baca : secara
resmi/hukum), otomatis saat itu secara resmi sekolah penulis belum berusia 50
tahun melainkan 49 tahun. Nah, mulai saat itulah keputus asaan kami rasakan. Setelah
rencana kegiatan digagalkan, sekarang tajuk acara juga digagalkan (baca : miris
L)
Namun, berkat
dorongan sebagian alumni agar kegiatan tetap ada dan terlaksana serta dorongan visi kami untuk membuat
kenangan kontribusi bagi almamater dan masyarakat maka kami tanpa putus asa mulai
menggagas konsep-konsep sederhana. Dengan anggaran yang minimalis, rencana kegiatan
tersebut antara lain jalan sehat antar kelas, dengan tata panggung yang sederhana
kami gagas ada acara festival band se kabupaten (padahal sebelumnya
se-karesidenan) dan kami gagas pula ada kegiatan resepsi sederhana malam puncak
HUT ke-49. Semua dengan anggaran yang minimalis. Saat rapat bersama guru
pembina, penulis presentasi tentang kegiatan-kegiatan tersebut. Namun, bukan
justru presentasi yang penulis tekankan melainkan curhat penulis jika sampai
saat itu kegiatan yang penulis dan kawan-kawan gagas masih ditolak lagi. Penulis
sampaikan sudah sering ditolak kegiatan-kegiatan yang kami ajukan. Serta tidak
ada kepedulian sebagian unsur-unsur keluarga besar sekolah untuk mendukung
acara itu.
Pada akhirnya,
ada bapak/ibu guru pembina kami yang membijaksanai permasalahan tersebut. Kalau
penulis tidak salah ingat, kebijaksanaan tersebut adalah sekolah akan
mengupayakan bersama mendukung dan mengemban bersama kegiatan tersebut,
mengingat kegiatan tersebut adalah kegiatan sekola. Dan tajuk acaranya bukan
HUT ke-49 melainkan road to Golden Anniversary (baca : menuju HUT emas)
mengingat sebelumnya kita diberi gagasan tentang HUT emas dan digagalkan.
alhamdulillah, rasa lega penulis dan kawan-kawan rasakan mendengar adanya
partisipasi dari pihak sekolah untuk bersama-sana mengemban kegiatan tersebut.
Dengan, konsep
yang sederhana itu namun pada kenyataannya kegiatan tidak berjalan se sederhana
pemikiran kami. Sebab, berangsur-angsur selalu mendapat dukungan baik moral dan
material dari berbagai pihak (Panitia yang solid, Pembina, Guru, alumni, pemerintah
daerah dan tak lupa Co-sponsor). Ternyata jalan sehat yang kami gagas berubah
menjadi SMANSA CARNIVAL (baca : karnaval SMA N 1). Terdukung juga ada kegiatan
sosial yaitu Pengobatan Gratis, sebab ada dukungan dari dinas kesehatan &
alumni. Festival band pun diikuti antusias oleh para peserta meski hanya
mencangkup se kabupaten. Malam puncak yang kami gagas pun juga terdukung dengan
konsep-konsep acara & tata panggung yang cukup menarik.
Dan
alhamdulillah, setelah event “road to GOLDEN ANNIVERSARY” yang telah kami
laksanakan pada tahun 2013, pada tahun 2014 ini telah terlakasana “GOLDEN
ANNIVERSARY” yang terwujud sangat meriah pula.
“ternyata
intan dan emas itu walaupun kecil jika diolah & dikreasi maka akan
menghasilkan suatu perhiasan yang indah dan menarik sehingga berharga mahal”
“tidak
selamanya hal yang besar tercetus dari gagasan yang besar pula, justru karena
gagasan yang kecil dan terbangun oleh tekad, kreasi dan pemikiran yang besar
maka akan tercipta suatu hal yang besar pula”
Hanya sebatas
share pengalaman saja, maaf jika menyangkut nama-nama berbagai pihak dan
institusi. Pada kesimpulannya tidak ada siapapun yang berarti negatif jika kita
selalu berfikir positif.
Komentar
Posting Komentar