DARI SISWA MENJADI MAHASISWA part 1

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Hallo kawan, kali ini aku mau share juga pengalaman mengikuti ospek di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dalam benak siswa rata-rata pasti asing dengan UII, karena bukan merupakan universitas negeri, wajar kali yaa yang banyak dikenali itu universitas negeri. Udah nggak banyak basa-basi, akan kuceritakan mulai awal masuk kuliah perdana. Yang penasaran lanjut bacanya yaa ! 1 september 2014 merupakan kuliah perdana maba/miba UII. Sebanyak 6.441 maba/miba berkumpul di Gedung Kahar Mudzakir (salah satu gedung pertemuan di Kampus Terpadu). Aku masih berkesempatan duduk di dlm ruang tepatnya sebelah kanan mimbar, jadi bisa dekat dengan para pejabat kampus dong, hehehe. Sementara kawan maba/miba yang lain tak sedikit duduk di luar gedung karena saking banyaknya (6.441 guys..). Suara Salam penyemangat mahasiswa mulai menggelegar, sekaligus pertama kali ku dengar. Hidup Mahasiswa..Hidup Mahasiswa..Hidup Mahasiswa..Allahu Akbar.. di ucapkan dengan mengepalkan jari tangan kiri dan mengangkatnya sebagai simbol perlawanan terhadap Penindasan dan Ketidakadilan. Meski terdengar & terlihat sederhana ternyata mampu membakar semangat seluruh Mahasiswa. subhanallah. Selain itu, beruntung sekali kuliah perdana di isi oleh seorang tokoh nasional (Ketua Komisi Yudisial RI Dr. Suparman Marzuki,S.H,M.Hum). Beliau merupakan alumni Fakultas Hukum UII. Nah ini yang membuat semakin percaya diri & bersemangat untuk membulatkan tekad belajar di Kampus Perjuangan. Mengapa disebut Kampus Perjuangan? Jawabannya, Kampus UII lah yang berdiri sebelum kemerdekaan indonesia dan merupakan tempat berkumpulnya para pejuang keadilan. Selain itu UII juga disebut Kampus Hijau. Mengapa? Karena, sangat memelihara kehijauan kampus. Banyak sekali ditumbuhi tanaman-tanaman hijau, tersedia taman-taman, rumput-rumput yang terawat. Keren lah pokoknya.hehe. Kembali bercerita soal kuliah perdana, setelah kuliah perdana berakhir tiba-tiba segerombol jas biru masuk dengan meneriakkan Hukum bersatu tak bisa dikalahkan..Hukum bersatu tak bisa dikalahkan..Hukum bersatu tak bisa dikalahkan.. sambil mengepalkan tangan dan membawa bendera FH UII. Serasa merinding dengarnya, apa lagi aku di Fakultas Hukum juga. Yaa, mereka para pengurus Lembaga Eksekutif Mahasiswa FH UII datang dengan maksud untuk menerima kedatangan maba/miba fakultas hukum serta membakar semangat kita maba/miba.
oke kawan, selanjutnya akan ku ceritakan pengalaman mengikuti OSPEK Universitas yang disebut PESTA. Wah, keren kali yaa, biasanya kan OSPEK identik dengan Senioritas dan Perpeloncoan gitu, tapi ini kita maba/miba benar2 mengikuti PESTA, apa sih PESTA? PESTA adalag Pesona Ta’aruf. Tanggal 2 september merupakan Pra PESTA, kita para maba maupun miba mengikuti kegiatan Pra PESTA ini guna berkumpul dengan Jamaah dan Wali Jamaah (Kak Ragil &  Kak Miftah) . Aku masuk di jamaah 31 (R.M Dorodjatun HB IX). Selanjutnya ada presensi kehadiran dan pendataan pilihan menu makanan saat PESTA (Benar-benar ibarat tamu kita di Jamu oleh yang  punya rumah, hehehe). Aku pilih aja menu yang harganya di tengah-tengah, yaitu lauk lele. Karena yang paling murah lauk telur dan yang paling mahal lauk ayam. Oke, Agenda selanjutnya pembuatan co-card, nah disini kebersamaan dalam satu jamaah dimulai. Kita buat co-card dengan bekerja secara tim, ada yang bertugas menggambar pola, memotong karton dan asturo, membuat kepang tali rafia. Tak kalah seru, kita juga buat yel-yel penyemangat jamaah. Sama sekali tidak ada tindak kekerasan & perpeloncoan kok ospek ku. Hehe. Amaann. Hari pertama PESTA, maba-miba disuruh berangkat pukul 05.00 WIB. Karena kos ku di Jl. Taman Siswa (dekat fakultas hukum) tepatnya di wilayah kota DIY, selama PESTA aku menginap di kos temanku di Jl. Kaliurang (dekat kampus terpadu UII). Kita dibariskan dan ditertibkan oleh Panitia Pemandu Barisan (PB). Ternyata tegas-tegas dan galak-galak juga yaa, tak apa lah itu kan bermaksud agar kami semua tertib. Semua atribut dan barang yang harus di bawa di cek dan di periksa sekaligus di kumpulkan. Untunglah barang-barang dan atribuntuku lengkap jadi nggak kena sanksi deh (maklum lah calon mahasiswa hukum, masa’ kena sanksi, hehehe). Sanksi yang diterapkan tidak berwujud kekerasan, melainkan sanksi-sanksi yang justru mendidik seperti mengumandangkan adzan, mempraktikkan wudhu, menyanyikan lagu-lagu perjuangan/nasional, gitu-gitu deh pokoknya. Nah setelah proses check in, aku langsung mencari jamaah ku. Susah sekali mencari jamaah, karena saking banyaknya (80 jamaah guys..). Agenda pertama mendengarkan Stadium General (Kuliah Umum) di Gedung Kahar Mudzakir. Ampun deh, jamaah ku mendapat tempat di luar gedung, hanya terdengar suara tepuk tangan maba/miba yang di dalam gedung. Padahal katanya Pembicaranya Bpk. Busyro Muqodas (Wakil Ketua KPK RI, Alumni UII juga). Sepanjang materi yang disampaikan sama sekali jamaah ku tak mendengar apa yang disampaikan, yaa Cuma sepotong-potong lah dengarnya. Ini mulai kita rasakan tidak adilnya panitia. Agenda pagi sampai terlaksana, siangnya kita di jadikan ikan asin, di jemur di Hall Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya. Yaa ampun, semakin lama kok semakin terasa bukan PESTA yaa, justru penyiksaan pelan-pelan ini. Tapi kakak-kakak wali jamaah dan para panitia selalu memberi semangat untuk kuat bertahan dalam keadaan seperti itu. Meski jawab iya, tak munafik lah tetep aja kita mengeluh kepanasan. Sore harinya matahari sudah mendingan berkurang sengatan panasnya. Agenda menyaksikan penampilan-penampilan UKM di UII. Keren-keren banget demonya, ada Marching Band, Dance, Tarung Drajad, Tae Kwon do, Soft Ball, dsb. Hari pertama berakhir pukul 18.00 WIB. Sebelum pulang kita di brifing barang yang perlu dibawa pada hari kedua. Kita di suruh bawa Beras ½ liter, Lilin dan Karton. PESTA hari kedua prosedurnya sama halnya hari pertama. Dan masih saja jamaah ku mendapat tempat diluar. Kali ini aku sedikit nakal, untuk menyusup kedalam gedung. Dari pada diluar cuma ngobrol dan kepanasan, masuk aja kedalam sok-sok jadi anggota jamaah yang di dalam, toh sama-sama belum kenal.hehehe. Ini namanya menentang ketidakadilan dengan cara sendiri, tidak berjamaah (jangan ditiru yaa, hehe). Setelah acara di Gedung Kahar Mudzakir selesai , agenda selanjutnya kita di panas-panaskan lagi. Yaa ampuun... Tak sedikit yang mengeluh kepanasan, kalo kalian yang baca tau pasti ngeri & kasian melihat kita. Agendanya simulasi aksi. Apaan simulasi aksi? Ternyata kita di ajarkan cara menyampaikan pendapat dengan terorganisir dan tertib (bahasa singkatnya Demonstrasi). Tahap-tahapnya kita disuruh memikirkan permasalahan, dan menuliskan gagasan maupun tuntutan pada kertas karton yang kita bawa. Setelah itu, kita berjalan sambil mengangkat kertas karton yang sudah tertulis gagasan dan tuntutan tadi. Sampai di lokasi materi, tepatnya didepan Kantor LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa) dan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa). Bener-bener demo ini kita, ibaratnya demo di depan Kantor Pemerintah dan DPR. Hehe. Di situ ada beberapa kawan yang di tunjuk untuk berlatih Orasi, menyampaikan 1 maksud demonstrasi yang kita lakukan. Semua prosedur dilakukan dengan semangat dan tertib. Sama sekali tidak diajarkan demonstrasi yang berbentuk kekerasan dan berantakan. Selama mengikuti kegiatan itu aku merenung diam. Sebenarnya pengen berorasi juga, tapi karena aku berfikir mengapa kita justru diajarkan demo bukan diajarkan bagaimana belajar yang baik dan benar seperti halnya di SMA. ? pertanyaanku terjawab oleh pemateri yang pada akhirnya memberi pencerahan dan pedoman demostrasi yang baik dan benar sekaligus tertib. Jawabannya “sekarang kalian bukan SISWA lagi tetapi MAHASISWA, di atas pundak kalian terdapat amanah yang semakin berat yakni kalian sebagai agen perubahan (agent of change), agen kontrol sosial (agent of social control) dan pejuang keadilan (iron stock). Jadi bukan sekedar belajar, tapi kalian harus beraksi dalam bentuk apapun salah satunya dengan demonstrasi. Mengapa demonstrasi kita lakukan? Karena telah terlindungi oleh Undang-Undang Dasar Pasal 28 bahwa setiap warga negara mempunyai kemerdekaann untuk menyampaikan pikiran dalam bentuk lisan dan tulisan. Jadi tidak masalah kita lakukan demonstrasi selama dilakukan dengan tertib”. Padi intinya begitu jawabanya. Kegiatan semakin melelahkan, karena jadwal amat padat. Namun yang dengan padatnya jadwal, kita masih bisa menjaga agenda paling wajib yakni mendirikan sholat. Awalnya semua disuruh sholat di satu tempat yakni Masjid Ulil Albab, tapi karena saking padatnya peserta dan harus berkloter-kloter, lagi-lagi melanggar intruksi panitia aku lakukan sholat di masjid fakultas  (tak apalah yang penting sholat). Tiba di penghujung acara, tepatnya malam hari kita disuruh untuk menyalakan lilin, Hall FPSB jika terlihat dari atas berkerumun gemerlap ribuan lilin (sumpah keren banget) dan disitu kita bersama-sama ucapkan Sumpah Mahasiswa. Ngeri kali mengucapkannya, ditandai lepasnya lampion sebagai simbol bahwa cita-cita/keinginan kita yang tinggi dan kita pasti menggapainya. Serta dihiasi puluhan kembang api di atas ribuan maba/miba. Benar-benar kenangan yang tak terlupakan. Serasa setelah bersusah-susah kita diberi hadiah bersenang-senang. Disitulah kebahagiaan dan keterharuan kita, bersama-sama jalani proses PESTA, berpanas-panas, lelah, merasakan sakit. Tapi semua itu terbalas dengan kebersamaan, semangat juang dan kenangan.
“ITU BARU PROSES AWAL KALIAN MENJADI MAHASISWA, JANGAN MENGELUH KEPANASAN ! JANGAN MENGELUH KELELAHAN ! JANGAN MENGELUH KESAKITAN ! KARENA DENGAN BERTAHAN, ITU AKAN MEMBAWA KALIAN MENJADI SEORANG YANG KUAT, HEBAT DAN BERMANFAAT”
“PETUALANG YANG HEBAT TIDAK TERDIDIK DARI MEDAN YANG LANDAI, TAPI PETUALANG YANG HEBAT TERDIDIK DARI MEDAN YANG CURAM”
Baik sekian dulu cerita ku mengikuti OSPEK di KAMPUS PERJUANGAN. Insyaallah aku akan share lagi, pengalaman mengikuti OSPEK di KAMPUS PERADILAN !
Maaf jika bahasa berantakan, menyinggung / kurang berkenan (positive)
Ini pengalamanku, mana pengalamanmu kawan ??

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Problematik Disharmoni Peraturan dan Kebijakan Pemerintah dalam Konteks Pengaruhnya Bagi Perekonomian Nasional

INI CERITAKU, MANA CERITAMU ?

PILKADA DAN CAKADA TERSANGKA