ASA YANG TAK TERCAPAI ?

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kita ketahui bersama bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan YME ada tujuannya. Diantara tujuan itu salah satunya adalah sebagai khalifah (arab) atau pemimpin di muka bumi. Terkadang kita memaknai pemimpin adalah manusia yang berkuasa. Tidak salah apabila kita memaknai seperti itu, sebab sudah menjadi realita bahwa pemimpin adalah manusia yang berkuasa. Namun apabila kita berfikir luas pemimpin bukan berarti hanya manusia yang berkuasa, melainkan manusia yang mampu mengendalikan / mengontrol sikap dan perilaku (baik hak maupun batil).
Mengutip kata-kata dalam bukunya MH Ainun Najib, bahwa manusia “seyogyanya itu menjadi manusia wajib dimana kedatangannya sangat dinanti dan kepergiannya sangat ditangisi”.  Mencapai manusia yang sebagaimana dikatakan Cak Nun (panggilan akrab MH Ainun Najib) menjadi hal yang mustahil apabila tidak dilandasi pendidikan agama (spiritual), moral (karakter/emosional), pendidikan ilmu pengetahuan (intelektual). Landasan itulah yang insyaallah bakal membawa manusia mencapai asanya (manusia wajib).
Kita sadar bahwa pembentukan dan penanaman landasan pendidikan harus dimulai sejak manusia masih dini (anak). Sebab anak adalah bibit tumbuhnya manusia-manusia yang akan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Anak adalah modal terbesar untuk pembangunan agama,bangsa dan negara. Dan anak adalah manusia bagaikan seputih kertas yang belum sama sekali tercoret oleh tinta. Dari ketiga pernyataan itulah yang menjadi inspirasi dan motivasi terbesar untuk mencapai asa.
Pendidikan adalah sarana utama dalam menyampaikan dan memberi suri tauladan terhadap  orang lain khusunya Anak. Dan sudah menjadi bagian dari tanggung jawab ibadah yang akan menentukan derajat masing-masing manusia. Cobalah kita simak arti ayat Al-Qur’an berikut "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Kutipan Q.S. Al-Mujadilah – 11). Sebagai bibit,modal dan satu-satunya manusia yang masih bersih pemikirannya maka sudah manjadi tanggung jawab orang tua khusunya untuk memberi pendidikan bagi putra-putrinya. Entah pendidikan secara langsung dituturkan oleh orang tua maupun pendidikan melalui lingkungan (formal & non formal).
Namun sekarang kebanyakan realita jauh dari harapan-harapan. Banyak disana – sini anak-anak yang tidak mendapat pendidikan & pendekatan kasih sayang dari orang tua, banyak dari mereka (orang tua) sibuk terhadap urusannya sendiri.  Tidak peduli terhadap kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Entah sangat kompleks permasalahan - permasalahannya apabila harus dituliskan disini. Yang jelas tampak spiritualitas, moralitas, pengetahuan anak-anak terbelit oleh kehidupan yang fana ini. Mereka tidak bisa mengimbangi  laju kehidupan yang hanya tertuju pada keinginan material semata. Sehingga “uang” merupakan asa terbesar yang sangat wajib diraih untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan material itu. Oleh karena itu, pendidikan terhadap 3 hal tadi (spiritual,moral,ilmu pengetahuan) dikesampingkan.
Ditambah lagi dengan permasalahan klasik Pemerintah belum bisa menjamin upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanah Pembukaan UUD RI 1945 yang diperjelas oleh Pasal 31 UUD 1945 khususnya ayat (1) “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”, ayat (2) “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya” dan ayat (3) “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Sudah barang tentu Pemerintah harus bertanggung jawab menjamin ketersediaannya fasilitas dan pembiayaan pendidikan bagi warga negaranya. Sebab menjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia sebagaimana pasal 28C ayat (1) UUD 1945 apabila Negara tidak memenuhi kewajibannya tersebut.
Melaui pendidikan formal dan non formal upaya tersebut bisa dilaksanakan. Sedikit pemahaman yang dimaksud pendidikan formal adalah melalui sekolah baik tingkat kanak-kanak,dasar, menengah dan tinggi. Sedangkan yang dimaksud pendidikan non formal melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan positif guna membangun dan mengembangkan mental masyarakat. Namun realitanya hal tersebut belum bisa mengupayakan masyarakat yang berpendidikan. Hal itu disebabkan karena masalah biaya pendidikan yang mahal, infrastruktur dan fasilitas pendidikan yang tidak memadai serta tuntutan jaman yang menimbulkan setiap orang (hingga anak-anak) harus bekerja agar mampu bertahan hidup sehingga pendidikan sangat dikesampingkan. Itulah yang menjadi problematika kehidupan dimasa ini.
Disisi lain jika kita ketahui bersama, ternyata dengan memperoleh pendidikan tidak menjamin tercapainya asa. Sebab banyak pula manusia-manusia berpendidikan yang terjerat oleh tujuan materialnya, sehingga penghalalan segala cara demi terpenuhi kebutuhan material harus dilakukan. Oleh karena itu mereka akan jauh terlempar dari tujuan asanya menjadi manusia wajib sebagaimana seharusnya manusia hidup dimuka bumi ini. Sekarang logika kita mulai berfikir “manusia yang berpendidikan saja gagal untuk menjadi manusia wajib, lalu bagaimana dengan manusia yang tidak berpendidikan???”
Kembali pada permasalahan anak yang tidak mau berpendidikan dan tidak memeroleh pendidikan. Ketidakpedulian beberapa orang tua terhadap pendidikan anaknya, ketidakmauan anak-anak untuk berpendidikan serta ketidakmampuan Pemerintah menyediakan pendidikan yang standar dan menyeluruh bagi rakyat-rakyatnya menjadi problematika kompleks yang menyebabkan harapan tidak tercapai. Sekarang tinggal diri kita masing-masing entah siapapun baik anak-anak,remaja,orang tua, pegawai, pedagang, pengusaha dan pemerintah sekalipun sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat apakah hanya akan Jalan ditempat bahkan apakah mau mundur ataukah mau Maju Jalan?
Sudah menjadi tanggung jawab bersama mewujudkan terciptanya bangsa yang sejahtera dengan memupuk diri yang berakhlaq mulia dan berpengetahuan. Dimana anak-anak menjadi target utama yang dipupuk dengan hal-hal tersebut. Bukan hanya orang tua dan anak-anak itu sendiri yang memiliki semangat untuk berpendidikan namun dengan semangat menyediakan fasilitas yang memadai dan menyeluruh dari Pemerintah menjadi harapan putra-putri bangsa untuk mencapai asa-asanya. Anak merupakan salah satu kelompok rentan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang, sehingga perlu dilindungi oleh pemerintah baik dari segi keamanan, pendidikan dan kesejahteraannya. Sehingga anak-anak memiliki 4 hak dasar yakni hak hidup,tumbuh kembang,perlindungan dan partisipasi untuk terjamin sebagai aset negara yang nantinya akan berperan bagi agama,bangsa dan negaranya.
Dengan demikian tidak ada alasan khususnya bagi anak-anak untuk tidak berpendidikan dan tidak memeroleh pendidikan yang layak mengingat betapa pentingnya pendidikan untuk mencapai asa menjadi manusia wajib yang sangat dinanti kehadirannya untuk mewujudkan agama, bangsa dan negara yang damai, adil, makmur dan sejahtera sehingga bumi ini menjadi rahmatan lil’alamin. Dan menjadi tanggung jawab bersama baik anak-anak,remaja,orang tua, pegawai,pengusaha,pemerintah dan seluruh manusia dimuka bumi untuk turut mewujudkan pendidikan tersebut sebagai wujud tanggung jawab kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini.
“sejatinya pendidikan itu adalah satu-satunya senjata untuk melawan kebodohan, kemiskinan dan kejahatan” – YRHakiki
Dari anas bin malik r.a Rasulullah bersabda : “menuntut ilmu adalah satu fardhu yang wajib atas tiap-tiap seorang islam”
Sekian yang dapat kami tuliskan, semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi diri kita masing-masing untuk mengasah senjata (pendidikan) demi tercapainya Asa menjadi Manusia Wajib sehingga kebodohan,kemiskinan dan kejahatan dapat kita perangi bersama. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Problematik Disharmoni Peraturan dan Kebijakan Pemerintah dalam Konteks Pengaruhnya Bagi Perekonomian Nasional

INI CERITAKU, MANA CERITAMU ?

PILKADA DAN CAKADA TERSANGKA