BELAJARLAH DARI SEJARAH
Orang akan menjadi
pintar karena Belajar, orang akan menjadi paham karena mempelajari, dan orang
akan menjadi bijak apabila memahami, terkhusus memahami sejarah. Baik sejarah
para Pahlawan, Guru, Negara, maupun institusi. Maka disini penulis mengutip dan
menuliskan kutipan pidato Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia
Prof. Mahfud MD yang disampaikan pada saat testimoni “Membedah Pemikiran Alm.
Prof. Dahlan Thaib yang beliau juga merupakan Guru Besar FH UII” dalam kegiatan
“Pekan Konstitusi” tribute to Prof. Dr. Dahlan Thaib,S.H,M.Si yang
diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Kontitusi FH UII pada 18-22 Agustus
2015.
Sebelum memasuki
uraian pernyataan Prof. Mahfud MD mengenai Sejarah Perjuangan Alm. Prof Dahlan
Thaib selama perjuangannya di Kampus UII serta sejarah Kampus UII sendiri,
terlebih dahulu mari kita simak sejarah singkat UII yang penulis kutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Islam_Indonesia berikut:
Pada tahun 1945, sidang umum Masjoemi (Majelis Sjoero Moeslimin Indonesia)
dilaksanakan. Pertemuan itu dihadiri oleh beberapa tokoh politik terkemuka masa itu termasuk diantaranya Dr. Mohammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia), Mohammad Natsir, Mr. Mohamad
Roem, KH. Wahid Hasjim. Salah satu keputusan dari pertemuan ini adalah pembentukan Sekolah Tinggi Islam (STI) oleh tokoh-tokoh terkemuka
tersebut. STI kemudian didirikan pada tanggal 8 Juli 1945 bertepatan dengan 27
Rajab 1364 H dan berkembang menjadi sebuah universitas yang disebut Universitas Islam Indonesia (UII)
sejak tanggal 3 November 1947 untuk memenuhi permintaan akan sebuah pendidikan
tinggi yang mengintegrasikan pengetahuan umum dengan ajaran-ajaran Islam.
Awalnya, UII
memiliki empat fakultas: Fakultas Agama, Fakultas Hukum, Fakultas Pendidikan, dan Fakultas Ekonomi, yang mulai beroperasi pada Juni 1948.
Sekitar tujuh bulan kemudian, UII terpaksa ditutup akibat agresi
militer Belanda. Banyak
siswa dan dosen bergabung dengan tentara Indonesia untuk mengusir Belanda. Pada awal 1950-an, tak lama setelah
perang, UII harus memindahkan aktivitas perkualiahan di beberapa tempat di kota Yogyakarta, bahkan sempat menggunakan Kraton Yogyakarta dan rumah dosen sebagai ruang kelas.
UII mengalami
banyak perkembangan antara 1961 sampai dengan 1970 di bawah kepemimpinan Prof. M.R.
R.H.A. Kasmat Bahuwinangun
(1960-1963) dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito (1964-1970). Selama masa jabatannya, Prof. M.R.
R.H.A. Kasmat Bahuwinangun
membantu mengembangkan Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah serta memperluas UII ke Purwokerto dengan mendirikan Fakultas Hukum dan Syari'ah disana.
Dari tahun
1964 sampai 1970, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. dr. M. Sardjito (seorang dokter medis terkemuka di
Indonesia), UII kembali diperluas hingga memiliki 22 fakultas, lima yang
berlokasi di Yogyakarta dan sisanya tersebar di provinsi lain: Jawa Tengah (Solo, Klaten, dan Purwokerto), dan Sulawesi Utara (Gorontalo). Bidang studi yang ditawarkan adalah Ekonomi, Hukum, Syari'ah, Tarbiyah, Teknik, Kedokteran, Kedokteran Hewan, dan Farmasi. Namun, ketika Peraturan
Pemerintah melarang UII
menyelenggarakan kegiatan pendidikan di luar Yogyakarta, maka UII harus menutup
kampus-kampus cabang. Beberapa dari kampus cabang yang ditutup ini kemudian
menjadi bagian dari lembaga pendidikan lokal. Contohnya adalah Fakultas
Kedokteran Universitas
sebelas maret, yang cikal
bakalnya adalah Fakultas Kedokteran UII di Surakarta yang ditutup pada tahun 1975.
Kurang lebih
seperti inilah kutipan pidato beliau Prof. Mahfud MD:
Sejak tahun 1978 Pemerintah
memberi perhatian kepada Universitas-universitas Swasta dengan diberi bantuan
dosen tetap, termasuk UII diberikan bantuan pemerintah dosen tetap (sebagai
pegawai negeri). Sebelum itu, sebelum generasinya Pak Dahlan dosen tetapnya ndak ada. Dosen tetapnya ya dosen yayasan.
Dulu yg diangkat pemerintah itu ya Pak Dahlan (angkatan pertama), ada juga Bu Muryati,
ada yang dosen tetap tapi ndak mau
diangkat sebagai pegawai negeri, seperti Pak Artidjo Alkostar (Hakim Agung MA),
Pak Marbun (Dosen dan Praktisi Hukum), dsb. Dipaksa-paksa sebagai pegawai
negeri ndak mau. Lalu UII sebelum pak
dahlan bagaimana? Yaa maju, institusinya bagus dikelola yayasan. Pada masa Pak
Dahlan, UII dengan status “status disamakan”. Ada satu-satunya dosen tetap dan
negeri yang diperbantukan pemerintah itu Pak Siswo Wiratmo, dan sesudah itu
banyak dosen-dosen negeri. Dimana masa persambungan ini Pak Dahlan sebagai
generasi penyambung (pada masa sebelum 1978 dan pasca 1978). Kalau mau tanya, gimana UII sebelum ’78? Pak dahlan tau, Pak
Artidjo juga tau, tapi bagaimana perkembangannya sesudah ’78 sampai sekarang?
Dia tau, karena dia ada yang ditengah itu, nah saya masuk pada saat masa
persambungan ini mulai jalan.
Nah
saudara, kalau kita lihat dimasa lalu itu, pikiran-pikiran pergerakan UII
sebagai Universitas perjuangan itu, kita punya aktivis-aktivis banyak. Nah
aktivis itu punya aliran-aliran tersendiri, seperti di Pemerintahan itu kan ada
kelompok, misalnya ini kelompok intelektual, ini kelompok partai, ini kelompok
profesional, nah di UII pada waktu
itu juga ada aliran, misalnya seperti Pak Dahlan ini memiliki aliran tersendiri,
disitu ada banyak barisan aktivis dimana saya ikut didalamnya, kemudian ada Pak
Artidjo, lalu kemudian ada yang dibawahnya. Tetapi itu bukan musuh, cuma aliran
orientasi perjuangan aja. Pak Dahlan itu
orangnya sangat fleksibel, sehingga masih sangat muda sudah menjadi pembantu
rektor 3 didalam UII sedang dalam keadaan bergolak. Itulah sebabnya, semua tadi
banyak yang menyebut suatu ayat “Walla
takullu wamma yuktal fisabilillahi amwat bal ahya”, jangan kau katakan
orang yang meninggal didalam perjuangan itu mati, tapi dia itu hidup. Seperti Bung
Karno, Bung Hatta itu kan mati, tapi
dia hidup, yang hidup ya ajarannya, jasanya, pemikiriannya. Dia hidup didalam
perjuangannya yang benar, ya seluruh tokoh didunia ini.
Kalau Al-Qur’an
menyebut belajarlah kamu dari sejarah, “Yaa
ayyuhalladzi naamanu takullah wal tandzur nafsun maa koddzamat lighat”, hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan belajarlah dari
sejarah..., lihat masa lalumu untuk melangkah ke masa depanmu, itu yang
dikatakan Bung Karno “Jas Merah” Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bahkan cerita ketika Fir’aun itu tenggelam
dilaut merah, Allah berfirman “Falyauma
nunajika bibadanika litakana miman kholfaha ayyah”, sekarang sesuai
perimintaanmu (fir’aun minta selamat, ketika mau mati pada waktu itu), Allah
berfirman, baik sekarang akan Saya (Allah) selamatkan badanmu agar menjadi
pelajaran sejarah bagi orang-orang yang hidup sesudahmu. Sesudah itu fir’aun
mati, orang heran, lho katanya Allah
berfirman menyelamatkan Fir’aun tapi kok
mati, Allah itu berfirman “menyelamatkan
badannya, tidak menyelamatkan jiwanya”. Dan subhanallah pada tahun 1870
badan fir’aun ini benar-benar ditemukan oleh Laurenz seorang Arkeolog. Dia
menemukan ada tubuh yang sudah mati 4000 tahun yang lalu tubunya itu masih
utuh, itulah yang dikatakan dari Allah belajarlah dari sejarah. Oleh karena
itu, marilah kita belajar dari sejarah. Orang meskipun sudah mati diperingati, karena
dia berjasa. Sebaliknya orang yang mati dan sebelumnya dia jahat juga
diperingati, tapi diperingati untuk dicaci maki, seperti Fir’aun, Hittler.
Sesudah generasi Pak
Dahlan banyak intelektual muncul. Di Mahkamah Agung ada Pak Artidjo Hakim yang
paling ditakuti sampai sekarang (seangkatan dengan Pak Dahlan), Suparman Marzuki
Ketua KY generasi dibawah saya, saya juga membimbing Desertasinya, lalu ada Busyro
Muqoddas pernah manjadi Pimpinan KY dan KPK (adik kelas Pak Dahlan dan Pak Artidjo),
Abdul Haris Semendawai (Ketua LPSK), Darmono (Kejaksaan Agung). Banyak lahir
disini sesudah generasi penyambung itu, sebelum itu ndak ada. Banyak mereka muncul setelah Kampus di institusikan (di akreditasikan),
sebelum itu pada masa Pak Dahlan kampus belum diinstitusikan. Dengan
diinstitusikannya kampus UII, memunculkan para tokoh, karena terdapat kenaikan
pangkat secara teratur, lahir Guru Besar (Prof Mahfud sebagai Guru Besar pertama
di UII pada Tahun 1999). Sebelum itu juga banyak Guru Besar, tapi minjam dari
Kampus lain, dan setelah itu banyak Guru Besar-Guru Besar UII yang muncul
hingga sekarang. Kemudian ada yang berkarir di Jakarta (DPR, Kementerian,
dll.), Marwan Jafar (Menteri Desa, Transmigrasi dan Pembangunan Daerah
Tertinggal Kabinet Kerja), adalah mahasiswa saya (Prof Mahfud MD) sekarang jadi
menteri. Itu karena merupakan produk perjuangan.
Ada suatu adagium yang saudara
mahasiswa harus pegang disini, ini juga selalu dikembangkan oleh generasi Pak
Dahlan hingga sekarang, “Kalau Kampus UGM
itu besar karena kampusnya besar, dia milik pemerintah, digaji pemerintah,
seluruhnya penuh dari gedung..., tetapi kalau UII besar karena mahasiswanya, mahasiswanya
yg tangguh berjuang”. Jadi kalau orang lulus dari UGM jadi hebat yaa wajar dong, memang dari UGM, wong
UGMnya sendiri sudah hebat kok UGM.
Tetapi kalau UII ini kampus terseok-seok, disinilah kampus, kampus UII yang
dimiliki sendiri pertama di Cik Ditiro (sekarang digunakan untuk Kampus
Pascasarjana Fakultas Hukum UII). Makanya ini masih dipertahankan, dulu saya
belajar dan bekerja bersama Pak Dahlan disini, ketika saya lulus saya menjadi Asisten
Pembantu Rektor III dari kampus ini, belum ada kampus kita yang besar 25 Hektar
yang di Jalan Kaliurang, belum ada yg di taman siswo, dulu kampus kita ya
disini. Tetapi inilah kampus paling bersejarah. Karena Kampus ini diperoleh
atas usaha dari pengurus yayasan pada waktu itu, minta bantuan ke NOVIB (Netherlands Organization for International Assistance) di Belanda, NOVIB
mempelajari, mengirim orang kesini, oh ternyata mahasiswanya bagus-bagus, punya
harapan, punya aktivitas, lalu dibantulah kampus ini (Kampus Cik Ditiro), ya
ini meskipun sangat kecil tapi punya makna sejarah, yang mudah-mudahan juga
bisa..entah ya saya ndak tau
bagaimana nanti dilestarikannya sebagai sejarah, cuma saya berharap kalau
kampus ini dibangun, nilai sejarahnya tu
tidak hilang. Banyak yang menyesal didunia ini membangun kampus-kampus, sesudah
itu pesan/tugu monumen sejarahnya hilang. Padahal penting itu kampus
bersejarah. Saya beberapa kali datang ketempat saya belajar waktu kecil (di
pondok pesantren) bersama crew
televisi ada tvOne, MetroTV, SCTV, RCTI, mana tempat belajarnya pak mahfud
waktu kecil? Saya menyesal.. sudah ndak
ada itu, karena telah berubah sudah jadi gedung sekolah yang bagus. Padahal
saya dulu belajar disuatu tempat yang namanya Langgar, tapi itu sudah tak ada,
lalu saya menyesal, kenapa dulu tidak diabadikan/tidak dilestarikan, sebagai
suatu momen, tempat belajar, meskipun sangat sederhana tapi bisa menghasilkan
orang yang “bermutu”. Saya berharap kampus ini dipelihara perencanaannya. Itu tentang
Pak Dahlan sebagai personal.
Itulah kutipan bagian pertama Pidato
Prof. Dr. Moh. Mahfud MD,S.H,S.U (mengenai sejarah perjuangan Almarhum di UII, beserta
sejarah Kampus UII) pada saat menyampaikan testimoni “Membedah Pemikiran Alm.
Prof. Dr. Dahlan Thaib,S.H,M.Si” pada puncak acara “Pekan Konstitusi” tribute to Prof. Dr. Dahlan
Thaib,S.H,M.Si yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Konstitusi Fakultas
Hukum Universitas Islam Indonesia.
Minimal setelah membaca
substansi Pidato tersebut, maka akan mampu memahamkan kita (Mahasiswa,
Dosen,dan semuanya) sebagai generasi penerusnya untuk lebih sekuat tenaga
berjuang meneruskan maupun meluruskan Perjuangan para Guru dan Institusi.
Selamat Berjuang!!
Selamat Berjuang!!

Komentar
Posting Komentar