MEMBANGUN BUDAYA DAKWAH DALAM KAMPUS
“Peran Intelektual Muslim dalam Pembangunan
Indonesia Bermartabat”
Membangun Budaya
Dakwah dilingkungan Kampus[1]
(dakwah..?? It’s okay)
Oleh : Yuniar Riza Hakiki
PENDAHULUAN
Berawal dari tema “Peran Intelektual
Muslim dalam Pembangunan Indonesia Bermartabat”, dalam kesempatan ini penulis
mencoba menuliskan gagasan dari analisa permasalahan yang sangat berpengaruh
terhadap martabat suatu Bangsa, Negara maupun Agama. Kita ketahui bersama bahwa
di Indonesia terjadi cukup banyak permasalahan di berbagai bidang. Mulai dari kemiskinan,
pengangguran, kriminal, korupsi, kisruh/konflik antar kelompok masyarakat,
sengketa-sengketa antar lembaga negara, dan berbagai permasalahan yang lain. Memahami
kondisi seperti inilah yang mendorong penulis untuk turut berpartisipasi
menganalisa dan mengungkapkan gagasan dalam kompetisi penulisan essay ini.
Menurut
Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kementerian dalam negeri dari sekitar 234,2 juta
penduduk Indonesia, sekitar 14,15 % adalah penduduk miskin, dan mereka umumnya
tinggal di perdesaan. Data tersebut menunjukkan keadaan bahwa 14,15 % dari jumlah penduduk Indonesia miskin secara
ekonomi. Namun, pada dasarnya “kemiskinan” dalam arti sebenarnya merupakan akar
permasalahan utama yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan lain.
Kemiskinan intelektual, emosional, dan spiritual menyebabkan kemiskinan moral, ekonomi,
dan sosial, kemudian kemiskinan moral, ekonomi, dan sosial ini dapat
menyebabkan tindakan amoral dan berujung timbul permasalahan-permasalahan yang
lainnya. Hal ini dapat
dipastikan salah satu penyebabnya dikarenakan aktor-aktor kehidupan belum memerankan
diri dalam lingkungan sosialnya dengan baik.
Manusia
sebagai ciptaan Allah yang sempurna dan merupakan khalifah di bumi, dalam
menjalani hidup didunia seharusnya tidak sekedar beraktivitas untuk keperluan
pribadinya. Melainkan juga berperan atas kemampuan yang dimiliki untuk
kemanfaatan semesta alam ini. Dalam memberi kemanfaatan manusia harus melakukan
dan menyeru untuk kebaikan (ma’ruf)
dan menghindari keburukan (munkar).
Hal ini dijelaskan sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran
ayat 110, “Kalian adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah….”.[2]
Telah jelas dan nyata bahwa sebagai makhluk yang berakal sehingga manusia
disebut sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kemudian
Firman Allah tersebut disederhanakan lagi oleh Rasulullah SAW yaitu “Khairunnas anfa uhum linnas” bahwa
sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak bermanfaatnya (kebaikannya) kepada
manusia lainnya.[3] Sehingga, mengandung
konsekuensi logis bahwa jika manusia ingin tinggi derajat dan martabatnya maka harus
banyak bermanfaat (kebaikannya) bagi manusia lain.
PEMBAHASAN
Memahami
landasan filosofis tersebut penulis memahami bahwa untuk membangun suatu
kehidupan yang bermartabat harus mengoptimalkan kemampuan manusia untuk kemanfaatan
bagi sesama dan lebih-lebih bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
Dengan banyaknya manusia yang bermartabat maka Bangsa, Negara, dan Agama pasti
akan bermartabat pula. Akan tetapi, sangat tidak mudah membangun kehidupan yang
bermartabat tersebut apabila tidak diawali dari hal terkecil. Karena logika
dasarnya adalah “Adanya uang 1 triliun
rupiah pasti karena adanya uang 1 rupiah”. Dari logika dasar tersebut
penulis mencoba mengungkapkan gagasan untuk membangun Indonesia yang
bermartabat dengan “Membangun Budaya Dakwah dilingkungan Kampus”.
Dari gagasan tersebut muncul
berbagai kemungkinan tanggapan dan pertanyaan yang tidak asing kita dengarkan. Mendengar
kata “Budaya” dan “Dakwah” seolah-olah ini merupakan gagasan klasik yang hingga
sekarang dipercaya sebagai upaya baik namun ternyata belum juga menghasilkan sesuatu
yang baik. Dan pertanyaan yang juga tidak asing lagi yaitu mengapa harus
berdakwah, dan mengapa harus dikampus.
Untuk menjawab kemungkinan tanggapan
dan pertanyaan tersebut penulis akan terlebih dahulu menguraikan maksud gagasan
yang penulis ajukan. Ketika kita mendengar kata “Dakwah” sering kali secara
spontan terfikirkan dengan Khutbah, Da’i, Agamis, Dalil-dalil, dll. Namun,
disini sedikit lain dengan apa yang menjadi kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Dakwah yang penulis maksud adalah aktivitas ketika antara seseorang dengan
lainnya sedang berkomunikasi dan interaksi secara langsung baik one by one maupun group by group dengan maksud saling menyeru dan mengingatkan
terhadap kebaikan serta menjauhi keburukan-keburukan/larangan.
Pada dasarnya nilai baik dan buruk bagi
masing-masing individu adalah berbeda-beda (relatif). Akan tetapi, dengan
parameter manfaat dan mudharat penulis dapat memastikan bahwa
nilai kebaikan dan keburukan tersebut bagi tiap-tiap individu dapat
dipersepsikan sama. Karena, tolak ukur mengenai baik atau buruknya suatu hal dikehidupan
sosial cukup jelas tertera dalam norma-norma sosial seperti, norma agama, norma
kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum. Oleh karena itu, penilaian
masing-masing individu terhadap baik atau buruknya perilaku tidak menjadi suatu
hambatan terhadap gagasan ini.
Selanjutnya, alasan gagasan ini diterapkan
dikampus adalah kampus merupakan lingkungan akademik yang dalam aktivitas
sehari-harinya memiliki tujuan untuk membentuk pribadi yang cerdas secara
intelektual, emosional, dan spiritual. Disisi lain, kampus diisi oleh para
pemuda yang mana menurut Anies Baswedan, Pemuda adalah harapan bangsa,kiprah
mereka selalu menentukan,dalam sejarah kita lihat rata-rata anak mudalah yang
membangkitkan bangsa.[4]
Selain alasan tersebut, membangun budaya dikampus dengan target manusia-manusia
yang telah menginjak dewasa penulis rasa cukup efektif. Sebab, komunikasi dan
interaksi untuk merealisasikan maksud cukup mudah. Karena penulis yakin 80-90 %
(persen) dari keseluruhan mahasiswa dalam suatu kampus telah memahami jati diri
dan posisinya masing-masing. Dengan dimikian, tidak ada alasan untuk menolak upaya
membangun budaya dakwah dalam lingkungan kampus.
Mengingat urgensi tersebut, kampus
merupakan lingkungan kecil yang sangat strategis untuk membangun martabat
bangsa. Hal ini dikarenakan, elemen mahasiswa yang sedang duduk dibangku
Perguruan Tinggilah yang kemudian akan terjun dilingkungan masyarakat.
Parameter tinggi/rendahnya martabat suatu bangsa salah satunya adalah sejauh
mana orang-orang yang berada dilingkungan akademik berperan dalam lingkungan
sosial dengan sebaik-baiknya. Sehingga, apabila dinegeri ini banyak terjadi krisis
integritas yang menimbulkan berbagai macam persoalan, maka perlu dipertanyakan seperti
apa metode pendidikan yang dibudayakan dilingkungan akademik.
Suatu budaya,
berangkat dari aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus
(continue). Kemudian aktivitas
tersebut akan menjadi suatu kebiasaan (usage),
sehingga apabila telah dilakukan cukup lama maka akan menjadi budaya (culture). Kemudian, apabila budaya
tersebut diikuti oleh banyak orang akan menjadi suatu adat (custom), dimana jika aktivitas yang
telah membudaya menjadi adat tersebut ditinggalkan maka akan terasa ganjil
dalam lingkungan tersebut.[5]
Akar untuk menumbuhkan kebiasaan ini, dimulai dengan menumbuhkan rasa cinta
terhadap aktivitas dakwah dengan dilakukan
secara berulang-ulang. Sehingga, dengan rasa cinta akan timbul keinginan untuk
terus melakukan aktivitas dakwah tersebut. Dan aktivitas dakwah yang
terus-menerus dilakukan tersebut akan menjadi kebiasaan, sehingga dapat menjadi
budaya positif dilingkungan kampus.
Gagasan tanpa strategi pasti hanya
akan menjadi angan-angan belaka. Oleh karena itu, dalam penulisan essay ini penulis
juga menyertakan strategi-strategi yang cukup sederhana dan dapat menjadi
rekomendasi dalam membangun budaya dakwah ini. Setidaknya terdapat 6 (enam)
strategi sederhana yang dapat dilakukan dalam setiap aktivitas.
Pertama, mengubah
paradigma bahwa “dakwah” tidak sekedar dipahami dalam arti sempit
(khutbah,da’i,dalil-dalil,dll.) namun saling sapa mengingatkan pada kemanfaatan
dan kebaikan juga merupakan dakwah. Kedua,
membiasakan senyum, sapa, salam (3S) dengan siapapun dalam lingkungan
kampus. Ketiga, mulai membangun
pembicaraan mengenai isu-isu yang sifatnya ringan dengan disertai sharing pesan-pesan moral dalam setiap
kesempatan bertemu kawan atau siapapun. Keempat,
memanfaatkan kekosongan waktu untuk membaca dan berdiskusi terkait
masalah-masalah yang sedang hangat terjadi sehingga hal itu akan menimbulkan
spontanitas ungkapan pemikiran yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Kelima, mengurangi aktivitas yang tidak
efisien (banyak mengeluarkan tenaga, namun tidak ada manfaatnya), misal
membicarakan keburukan orang lain/gosip, bercanda yang berlebihan, dan aktivitas
non produktif lainnya. Dan yang
terakhir atau Keenam, selama
menjalani pergaulan (muamalah) dengan sesama berusaha bersikap aktif
terhadap hal-hal positif dan pasif/diam untuk tidak melakukan apabila terdapat
suatu perbuatan yang negatif. Karena hal ini juga merupakan suatu dakwah yang dapat
menimbulkan orang lain berfikir terhadap sikap yang kita tunjukkan.
PENUTUP
Sebagai pernyataan penutup (closing statement) yang juga merupakan
simpulan pada bagian penulisan essay ini, akan penulis bangun kembali latar
belakang,analisa hingga solusi/gagasan yang telah teruraikan secara lebih ringkas. Pada prinsipnya, akar tumbuhnya persoalan
disuatu bangsa yang menimbulkan merosotnya martabat adalah tidak berfungsinya
manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal ketika berperan dilingkungan
sosial. Penulis menyadari bahwa pribadi sendiri belum mampu mengoptimalkan
peran ini dengan baik dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, dengan bersama-sama berupaya
menerapkan budaya dakwah sebagaimana yang penulis ungkapkan maka akan terbangun
hubungan timbal balik/resiprokal antar
sesama untuk saling berperan dengan sebaik-baiknya.
Melalui
kesepahaman bersama membudayakan aktivitas positif antara
intelektual-intelektual muslim khususnya dilingkungan Universitas Islam
Indonesia, penulis optimis akan menjadi upaya mengurangi sedikit demi sedikit berbagai
persoalan. Baik persoalan kemiskinan intelektual/moral maupun kemiskinan
material yang berujung pada persoalan bangsa seperti pengangguran, korupsi,
kejahatan/kriminal, konflik fisik maupun batin, dan persoalan-persoalan yang
lain. Sehingga, martabat suatu bangsa akan terwujud seiring bagaimana tiap-tiap
individu khususnya para intelektual muslim dapat memerankan dirinya dengan
baik, yaitu menjauhi kemudharatan dan
mengupayakan kemanfaatan.
DAFTAR BACAAN
-
Al-Qur’an Surah
Ali Imran Ayat 110
-
HR. Qadha’ie
dari Jabir
-
Syukur,Yanuardi.
2014. Anies Baswedan Mendidik Indonesia, Yogyakarta
: Giga Pustaka
-
Teori
Antropologis tentang metode historis terbentuknya Hukum dalam perkuliahan
“Antropologi Hukum”
[1] Karya ini pernah diikutkan dalam
Lomba Essay Al-Azhar Berdakwah se- DIY oleh Takmir Masjid Al-Azhar FH UII dan memperoleh Juara I (satu)
[2] Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat
110
[3] HR. Qadha’ie dari Jabir
[4] Yanuardi Syukur, Anies Baswedan Mendidik Indonesia, (Yogyakarta
: Giga Pustaka, 2014), hlm.172
[5] Teori Antropologis tentang
metode historis terbentuknya Hukum
Keren mas bro 😁
BalasHapusKereen Yunnn
BalasHapusmakasih semua :) diterapkan yuk!
BalasHapusJoss mas
BalasHapus